UMK News - Suara sholawat menggema lembut dari Mushola Al-Hikmah, Desa Gununglarang, Rabu sore itu. Seperti biasa, ibu-ibu berkumpul mengikuti pengajian rutin “Reboan” — sebuah tradisi yang sudah menjadi napas spiritual warga. Namun, kali ini suasana sedikit berbeda. Di antara deretan jamaah, terlihat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kuningan duduk rapi, mengikuti rangkaian acara dengan penuh takzim.

Pengajian dimulai pukul 16.00 WIB, diawali lantunan sholawat yang menghangatkan hati. Tausiyah kali ini bertema Ma'rifatul Insan — mengenal hakikat manusia sebagai ciptaan Allah — disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh. Sesekali terlihat jamaah mengangguk pelan, menyimpan pesan moral yang disampaikan.

Berbeda dari peran mereka di kampus, mahasiswa KKN tidak datang untuk memberi ceramah atau memimpin acara. Mereka memilih menjadi bagian dari jamaah, membantu menata tikar, menyambut warga yang hadir, hingga mengabadikan momen kebersamaan. “Alhamdulillah senang sekali ada anak-anak mahasiswa yang ikut hadir. Meski tidak memberi tausiyah, kehadiran mereka menambah semangat,” ungkap Bu Yati, salah satu jamaah, sambil tersenyum.

Zidni, salah satu mahasiswa KKN, mengaku bahwa kehadiran mereka bukan sekadar formalitas. “Reboan ini memberi banyak pelajaran tentang kesederhanaan dan kebersamaan. Kami merasa terhormat bisa ikut di tengah-tengah masyarakat, belajar dari keteladanan mereka,” tuturnya.

Pengajian berakhir menjelang Maghrib, ditutup dengan doa bersama. Namun, momen hangat tidak langsung usai. Mahasiswa dan warga tampak berbincang santai di halaman mushola, saling bertukar cerita sambil melepas senja.

Tradisi Reboan di Mushola Al-Hikmah menjadi pengingat bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu diukur dari seberapa besar panggung yang kita duduki, tetapi dari seberapa tulus kita hadir, mendengar, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat.